Air Susu Dibalas Air Tuba
cerpenMatahari sore itu menyusup lewat sela-sela genteng rumah tua, memantulkan cahaya ke wajah keriput Ibu Warti. Tangannya gemetar, menggenggam cangkir teh yang sudah tak lagi hangat. Di sudut matanya, air bening menunggu jatuh. Sudah sebulan lebih ia tidak mendengar kabar dari anaknya, Raka. Anak yang dulu ia besarkan dengan susah payah, tanpa seorang suami di sisi. Ia yang rela menjahit…
IKLAN SPONSOR: https://msmparking.com/
Matahari sore itu menyusup lewat sela-sela genteng rumah tua, memantulkan cahaya ke wajah keriput Ibu Warti. Tangannya gemetar, menggenggam cangkir teh yang sudah tak lagi hangat. Di sudut matanya, air bening menunggu jatuh.
Sudah sebulan lebih ia tidak mendengar kabar dari anaknya, Raka. Anak yang dulu ia besarkan dengan susah payah, tanpa seorang suami di sisi. Ia yang rela menjahit sampai larut malam, menggadaikan perhiasan terakhir, bahkan menahan lapar demi memastikan Raka bisa sekolah dan makan layak.
Kini, Raka telah sukses. Ia bekerja di kota besar, mengenakan jas, dan mengendarai mobil yang dulu hanya Ibu Warti lihat di televisi. Tapi sukses itu membawa jarak. Raka jarang pulang, dan setiap kali pulang, ia lebih sibuk menatap layar ponsel daripada wajah ibunya.
Hari itu, Ibu Warti memberanikan diri menghubungi Raka. “Nak… Ibu mau ketemu. Ada yang mau Ibu bicarakan.”
Di seberang, suara Raka terdengar datar. “Bu, saya sibuk. Kalau cuma mau minta uang, transfer saja bilang ke Mbak Tati.”
Kalimat itu menghantam hati Ibu Warti. Tangannya terhenti, napasnya tercekat.
Bukan uang yang ia mau—ia hanya ingin memeluk anak yang pernah ia gendong, merasakan hangatnya seperti dulu.
Malamnya, Ibu Warti duduk di teras, menatap jalanan desa yang sunyi. Ingatannya melayang ke masa lalu, ketika Raka kecil demam tinggi dan ia berjaga semalaman sambil memeluknya, membisikkan doa-doa. Saat itu ia berjanji, apapun yang terjadi, ia akan mencintai Raka tanpa syarat.
Kini ia sadar, janji itu tetap ia tepati… meski balasannya adalah dingin dan acuh. Air susu yang ia beri, dibalas dengan air tuba.
Namun, di tengah perih itu, Ibu Warti tersenyum tipis. “Tak apa, Nak… Suatu hari, kau akan mengerti,” bisiknya pada angin malam.
Dan entah mengapa, bintang-bintang malam itu terasa sedikit lebih redup.
🔥 Postingan Populer
- Investasi Parkir di MSM Parking, Peluang Bisnis Menggiurkan di Era Digitalisasi Transportasi
- “Senja di Bangku Taman”
- Uang Habis? Begini Cara Mengatasinya Tanpa Panik
- Kisah Cinta Tak Terduga: Wanita Muda Cantik Jatuh Hati pada Bosnya yang Masih Muda dan Sudah Punya Tiga Anak
- Cara Memperbaiki Error pada Komputer: Panduan Lengkap untuk Pemula dan Profesional
Tinggalkan Balasan