Portal Opini Nasional & Suara Publik Independen

Dari Desa Tanpa Sinyal, Yoel Liem Yusnarto Membawa Parkir Indonesia ke Era Digital

Tokoh /Enterpreaneur
Anonim: Penulis Anonim • Agustus 13, 2025 • 3 menit baca • Tokoh /Enterpreaneur
Sponsor

Di sebuah desa kecil bernama Baran Abang, di pulau perbatasan Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, seorang anak laki-laki lahir pada 3 September 1988. Desa itu sederhana—jalan berdebu, sinyal telepon sering hilang, dan peluang hidup tampak terbatas. Namun di mata anak itu, dunia bukanlah hanya sejauh pandang mata; ia percaya bahwa batas geografis tidak boleh membatasi mimpi. Anak itu bernama Yoel Liem…

IKLAN SPONSOR: https://msmparking.com/

Di sebuah desa kecil bernama Baran Abang, di pulau perbatasan Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, seorang anak laki-laki lahir pada 3 September 1988. Desa itu sederhana—jalan berdebu, sinyal telepon sering hilang, dan peluang hidup tampak terbatas. Namun di mata anak itu, dunia bukanlah hanya sejauh pandang mata; ia percaya bahwa batas geografis tidak boleh membatasi mimpi.

Anak itu bernama Yoel Liem Yusnarto.

Awal Perjalanan
Masa kecil Yoel diwarnai rasa ingin tahu yang besar. Ketika sebagian anak menghabiskan waktu bermain di tepi pantai atau ladang, Yoel lebih senang membongkar radio tua, memeriksa kabel, dan mencari tahu bagaimana listrik bisa menghidupkan suara. Dari situ, benih ketertarikan pada teknologi tumbuh.

Tahun demi tahun berlalu, ia merantau ke Bandung untuk menempuh pendidikan di STIE-STMIK IM. Kota besar itu memberinya akses ke teknologi yang dulu hanya bisa ia bayangkan. Ia mulai belajar tentang komputer, perangkat lunak, dan internet—hal yang saat itu masih asing di kampung halamannya.

Merintis dari Nol
Pada 2013, dengan modal pengetahuan dan sedikit tabungan, Yoel mendirikan usaha pengembangan perangkat lunak. Awalnya, bisnisnya kecil—membuat sistem kasir dan aplikasi sederhana untuk UMKM. Namun satu proyek mengubah segalanya: sebuah permintaan untuk mengotomatisasi sistem parkir di sebuah pusat perbelanjaan.

Yoel melihat peluang besar. Parkir di Indonesia, yang selama ini dikelola manual, rawan kebocoran pendapatan dan tidak efisien. Ia membayangkan sistem yang bisa memadukan IoT, kamera ANPR, pembayaran QRIS, dan dashboard cloud yang transparan untuk pemerintah daerah.

Lahirnya PT MSM Tiga Matra Satria
Dari ide itu lahirlah PT MSM Tiga Matra Satria, yang kemudian dikenal luas sebagai bagian dari MSM Parking Group. Yoel memimpin langsung inovasi produk, dari palang parkir otomatis, e-parking berbasis QRIS, hingga sistem manless gate.

Kisahnya bukan hanya soal teknologi. Yoel menciptakan program “Jukir Bermartabat”, mengubah para juru parkir informal menjadi tenaga profesional berseragam, bergaji tetap, dan terlatih. Ia percaya bahwa digitalisasi harus membawa kemajuan bagi manusia, bukan sekadar mengganti manusia dengan mesin.

Membawa Perubahan hingga ke Kampung Halaman
Yang paling membanggakan, Yoel berhasil membawa teknologi parkir pintar kembali ke Karimun, tanah kelahirannya. Proyek-proyeknya kini mengelola lebih dari 2.000 titik parkir otomatis di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Solo, Batam—dan tentu saja, Karimun.

Bagi Yoel, setiap gerbang parkir yang berdiri bukan hanya pintu masuk kendaraan, tetapi simbol dari bagaimana mimpi kecil bisa menjadi pintu menuju perubahan besar.

Visi ke Depan
Yoel tidak berhenti. Visi besarnya adalah membangun solusi parkir cerdas untuk kota masa depan, terintegrasi dengan transportasi publik, ramah lingkungan, dan berbasis data real-time. Ia percaya Indonesia bisa menjadi negara dengan sistem parkir terdepan di Asia Tenggara—dan PT MSM Tiga Matra Satria akan berada di garis depan perubahan itu.

“Saya lahir di tempat yang serba terbatas, tapi saya percaya mimpi tidak mengenal batas,” ujarnya suatu ketika. “Teknologi hanyalah alat—yang terpenting adalah hati untuk membangun negeri.”

766SHARES5kVIEWS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *